Senin, 21 Januari 2019

Kisah Hidup 1 : Seorang Rizal yang Terlahir dari Ibu dan Ayah yang Luar Biasa


Inilah kisah hidup saya, seorang Arizal Firmansyah. Seorang pria yang memiliki cerita hidup yang cukup unik yang ingin saya bagi di blog saya ini.

Saya ingin bercerita mulai dari saya terlahir di dunia yang indah ini. Beberapa tahun yang lalu, tepatnya tanggal 15 September 1986 saya terlahir di dunia ini.

"AllahuAkbar... AllahuAkbar...
AllahuAkbar... AllahuAkbar...
Asyhadu 'ala ila hailaLLah....
Asyhadu 'ala ila hailaLLah....
Asyhadu 'ana MuhammadarrasuluLLah...
Asyhadu 'ana MuhammadarrasuluLLah...
Khaiyya ala Sholah....
Khaiyya ala Sholah....
Khaiyya alal Falah....
Khaiyya alal Falah....
AllahuAkbar... AllahuAkbar...
LailahailaLLah...." 
bisik Ayah saya meng-adzan-i saya seketika setelah saya lahir.

Saya terlahir dari rahim Ibu yang suci, Ibu Chosiah, seorang wanita yang luar biasa asal sebuah desa di Pasuruan, dan dari buah cinta Ayah saya yang bernama Bapak Mochammad Arifin, seorang Pedagang Kaset di Pasar Besar Kepanjen.

Keluarga Ibu saya yang sederhana, Petani di Desa Wonojati, Pasuruan. Dan keluarga Ayah saya yang luar biasa perjuangannya, adalah keluarga dari Mbah Mahmud Ahmadun, seorang penghulu di Kota Kepanjen.

Ibu saya kecil di Pasuruan dan Ayah saya kecil di Sumberpucung. Mereka berdua bertemu di Kepanjen saat keluarga Mbah Kakung dan Mbah Putri (Keluarga Ayah saya) telah tinggal di Kepanjen.

Saya, Rizal kecil terlahir hingga balita tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana namun cukup luas di Kelurahan Penarukan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Rumah sederhana yang kami kontrak ini berada di sebelah sebuah masjid dan di depan Kantor Kelurahan Penarukan. Namun kini, rumah tersebut telah dibongkar dan dibangun menjadi rumah yang lebih bagus dan telah ditempati orang lain.

Ini adalah kehidupan yang indah bagi saya. Sebab, waktu itu kita masih serumah dan saya tidak begitu mengerti permasalah keluarga di usia saya itu, apalagi rumah kontrakan kami waktu itu cukup luas dan ada lahan dimana Ayah yang mempunyai sedikit hobi bercocok tanam.

Bangunan rumah ini telah berubah, dan sekarang sangat bagus. Beberapa kali saya sempat melewati rumah tersebut, saya selalu membayangkan bagaimana saya dulu hidup di sini ketika masih kecil.

Apalagi saat ini om saya yang bernama Pak Toha juga telah pindah rumah ke daerah Kedungpedaringan, jadi saya masih sering melewati jalan dimana rumah lama saya berada.

Suatu saat saya sempat melalui jalan ini, berhenti sejenak, dan merasakan kehidupan kami dulu di Penarukan yang terlalu indah dan terlalu berat untuk diingat. Semuanya ya.. karena hidup itu pasti ada senyum dan tangisan.

Alhamdulillah.. satu hal pertama yang saya ingat dari kehidupan saya ketika masih kecil adalah.. saya sempat di dulang (disuapin) oleh Ibuk saya nasi putih dengan jangan bening. Mungkin ketika itu saya masih berumur 3 tahunan. Saya ndak tahu mengapa saya begitu ingat sekali ketika Ibu menyuapi saya dan saya berjalan kesana-kemari di dalam rumah sederhana kontrakan kami tersebut.

Ya Allah... begitu indah kenangan kehidupan kecilku di Penarukan.

Kemudian, saya juga ingat ketika Ibu menggendong saya dengan selendang berwarna merah dan menyuapi saya dengan nasi plus jangan bening yang dilengkapi dengan wortel. Itulah mengapa sejak kecil saya suka sekali makan wortel. heheh.. kayak kelinci aja.

Saya juga ingat sempat diajak jalan-jalan oleh Ayah saya dengan menggunakan sepeda pancal berwarna hitam. Saya dibonceng di depan menggunakan sebuah angkring.

Saya juga sempat ingat pernah berjalan bersama dengan keluarga pada malam hari setelah mampir ke rumah nenek saya di Jl. Effendi. Ketika sampai di Jalan Makmur (nama jalan rumah saya di Penarukan yang saat ini berubah nama jalan saya gak tau mengapa), Ayah saya sempat nggudo saya pas masih kecil. "Le.. itu lho ada bulan.. bulan itu beberpa saat lagi bakal jatuh di sumur sebelah rumah kita.. yuk.. ambil cepuk (mangkuk) untuk mengambil bulannya.." Seketika itu pun setelah dibilang begitu sama Ayah, saya langsung lari untuk mengambil sebuah cangkir plastik berwarna kuning yang ada di rumah. Cangkir kesukaan saya pada waktu itu.

Saya juga sangat mengingat betapa dulu saya sering bermain bersama mbak saya di rumah tetangga sebelah, rumahnya mbak luluk. Saya pun sempat ditanggap di sana, di depan rumah mbak luluk. Saya ingat sekali. Saya ditanggap menyanyi lagu Rhoma Irama yang berjudul Terpaksa. Saya ndak tahu mengapa begitu suka dengan lagu ini pada saat masih kecil.

Sungguh terpaksa... aku menyanyi...
Mengharapkan tuan bermurah hati...
Coba dengarkan aku menyanyi...
Membawa suara jeritan hati...
Aa.... aa.... a..... aaa... a......

Hehe... masa kecil di Penarukan yang luar biasa. Hal yang paling saya ingat juga adalah jaket doraemon yang dibelikan Ayah saya yang luar biasa. Punya saya berwarna biru, punya mbak saya berwarna merah.

Oh ya.. Saya terlahir dari 3 bersaudara. Mbak saya, kemudian saya, dan terakhir adik saya perempuan juga. Dalam bahasa jawa istilahnya pancuran kapit sendang. Persis seperti yang pernah dibicarakan orang-orang dulu, fenomena pancuran kapit sendang, anaknya yang laki-laki harus diruwat agar ndak dimakan bethoro kolo. Kini, setelah saya berkonsultasi dengan banyak pihak dengan istilah ruwatan ini, ada banyak yang menilai hal itu ternyata bisa dipakai bisa ndak tergantung dari keyakinan saja. Dan, saya pun memilih untuk menghargai pendapat orang dulu dan memilih meyakini prinsip dalam Islam saja, yakni bahwa segala sesuatu itu adalah bermula dari tawakal yang bersumber dari iman, taqwa, serta do'a.

Alhamdulillah.. Terima kasih Ya Allah atas pengalaman hidup yang telah Engkau Berikan kepada hamba-Mu ini. Terima kasih juga Ayah dan Ibuku yang tersayang atas perjuangan panjenengan yang luar biasa, serta terima kasih juga Mbak dan Adikku tersayang.. ^^

- Arizal Firmansyah -